Peties Kasus Suap PSSI
Peti es kasus suap Serentetan kasus suap dan pengaturan skor membayangi perhelatan kompetisi sepak bola Indonesia di semua jenjang. Sayangnya, kasus tersebut tak pernah bisa dituntaskan PSSI di bawah komando Nurdin Halid. Kini, upaya kotor yang bertentangan dengan slogan FIFA tersebut kembali muncul. Percobaan penyuapan yang dilakukan Manajer Persiku Kudus, Muhammad Ridwan, dan Sekretaris Umum Pengda PSSI Jawa Tengah, Johar Lin Eng, kepada beberapa pemain Persis Solo mencoreng babak play-off Divisi Utama yang digelar di Stadion Jatidiri, Semarang. Lagi-lagi PSSI berkeming. Mereka tidak bergerak cepat menuntaskan kasus yang memalukan tersebut. Ada kesan akan kembali dipetieskan seperti kasus-kasus sebelumnya. Ya, dua hari sebelum pertandingan play-off antara Persiku Kudus melawan Persis di Stadion Jatidiri, Minggu (8/8), Ridwan dan Johar secara intrnsif menelepon beberapa pemain Persis. Ridwan dan Johar menanyakan permasalahan gaji para pemain Persis yang belum dibayar. Kemudian keduanya merayu dengan menjanjikan akan memberikan sisa gaji yang belum dibayarkan, lalu ditawarkan juga bergabung dengan Persiku pada musim depan. Tapi, dengan catatan tidak boleh tampil pada laga play-off. "Jelas saya tidak mau," kata Nova Zaenal, striker Persis, tegas. "Selain saya, ada lima rekan saya yang juga ditelepon. Yang menelepon mengatakan kalau ia dari Pengda PSSI Jateng. Lalu, Manajer Persiku juga menelepon dan bahkan minta untuk bertemu. Tapi, kami berkomitmen membawa klub kami bertahan di Divisi Utama. Jadi kami menolak tawaran mereka (Ridwan dan Johar." Ketua Umum Persis, FX Hadi Rudyatmo, mengatakan kalau kasus ini sudah dilaporkan ke Komisi Disiplin (Komdis) PSSI, Senin (9/8). Dan dalam waktu dekat, Persis juga akan melaporkannya ke Polisi. "Kami sudah berkonsultasi kepada pengacara kami, dan kami akan segera melaporkan mereka ke kepolisian," ujar Hadi. "Kasus ini jelas sangat memalukan dan membuat kotor sepak bola Indonesia. Kalau Persiku tetap dinyatakan lolos, ini akan menjadi preseden buruk bagi PT Liga Indonesia dan PSSI. Saya pikir sudah saatnya persepakbolaan Indonesia direformasi total." Hadi menduga kalau pihak Persiku juga menyuap Persires Rengat. Kala itu, di play-off Persiku menang 5-1 atas Persires. "Masak dalam waktu empat menit bisa tercipta tiga gol? Ini tak masuk akal" ujar Hadi. "Kabarnya, Persiku berjanji akan memberikan dana kepada Persires." Komdis sendiri belum menanggapi kasus penyuapan ini. Alasannya, mereka masih libur puasa. Anehnya, tak ada satu pun anggota Komdis yang bisa dihubungi dan mau dimintai komentarnya. Bisa jadi, kasus suap ini akan kembali dibuat “abu-abu” seperti kasus dugaan penyuapan yang melibatkan Ketua Komdis Hinca Panjaitan dan Ketua Panpel Arema Indonesia, Abdul Haris. “Tak ada keseriusan PSSI untuk memberantas suap karena faktanya banyak pengurus PSSI yang terlibat. Mulai dari pengaturan skor sampai ke siapa yang akan juara dan degradasi. Ini sudah sangat kronis,” kata Abu Bakar Assegaf, Ketua Umum Persekabpas. “Saya juga yakin kasus Persis tak akan dituntaskan. Apalagi, kompetisi sudah berakhir. Ini sudah tidak benar.
Serentetan kasus suap dan pengaturan skor membayangi perhelatan kompetisi sepak bola Indonesia di semua jenjang. Sayangnya, kasus tersebut tak pernah bisa dituntaskan PSSI di bawah komando Nurdin Halid. Kini, upaya kotor yang bertentangan dengan slogan FIFA tersebut kembali muncul.

Percobaan penyuapan yang dilakukan Manajer Persiku Kudus, Muhammad Ridwan, dan Sekretaris Umum Pengda PSSI Jawa Tengah, Johar Lin Eng, kepada beberapa pemain Persis Solo mencoreng babak play-off Divisi Utama yang digelar di Stadion Jatidiri, Semarang.
Lagi-lagi PSSI berkeming. Mereka tidak bergerak cepat menuntaskan kasus yang memalukan tersebut. Ada kesan akan kembali dipetieskan seperti kasus-kasus sebelumnya.
Ya, dua hari sebelum pertandingan play-off antara Persiku Kudus melawan Persis di Stadion Jatidiri, Minggu (8/8), Ridwan dan Johar secara intrnsif menelepon beberapa pemain Persis.
Ridwan dan Johar menanyakan permasalahan gaji para pemain Persis yang belum dibayar. Kemudian keduanya merayu dengan menjanjikan akan memberikan sisa gaji yang belum dibayarkan, lalu ditawarkan juga bergabung dengan Persiku pada musim depan. Tapi, dengan catatan tidak boleh tampil pada laga play-off.

“Jelas saya tidak mau,” kata Nova Zaenal, striker Persis, tegas. “Selain saya, ada lima rekan saya yang juga ditelepon. Yang menelepon mengatakan kalau ia dari Pengda PSSI Jateng. Lalu, Manajer Persiku juga menelepon dan bahkan minta untuk bertemu. Tapi, kami berkomitmen membawa klub kami bertahan di Divisi Utama. Jadi kami menolak tawaran mereka (Ridwan dan Johar)”
Ketua Umum Persis, FX Hadi Rudyatmo, mengatakan kalau kasus ini sudah dilaporkan ke Komisi Disiplin (Komdis) PSSI, Senin (9/8). Dan dalam waktu dekat, Persis juga akan melaporkannya ke Polisi.
“Kami sudah berkonsultasi kepada pengacara kami, dan kami akan segera melaporkan mereka ke kepolisian,” ujar Hadi.
“Kasus ini jelas sangat memalukan dan membuat kotor sepak bola Indonesia. Kalau Persiku tetap dinyatakan lolos, ini akan menjadi preseden buruk bagi PT Liga Indonesia dan PSSI. Saya pikir sudah saatnya persepakbolaan Indonesia direformasi total.”

Rudi menduga kalau pihak Persiku juga menyuap Persires Rengat. Kala itu, di play-off Persiku menang 5-1 atas Persires. “Masak dalam waktu empat menit bisa tercipta tiga gol? Ini tak masuk akal” ujar Hadi. “Kabarnya, Persiku berjanji akan memberikan dana kepada Persires.”
Komdis sendiri belum menanggapi kasus penyuapan ini. Alasannya, mereka masih libur puasa. Anehnya, tak ada satu pun anggota Komdis yang bisa dihubungi dan mau dimintai komentarnya.
Bisa jadi, kasus suap ini akan kembali dibuat “abu-abu” seperti kasus dugaan penyuapan yang melibatkan Ketua Komdis Hinca Panjaitan dan Ketua Panpel Arema Indonesia, Abdul Haris.
“Tak ada keseriusan PSSI untuk memberantas suap karena faktanya banyak pengurus PSSI yang terlibat. Mulai dari pengaturan skor sampai ke siapa yang akan juara dan degradasi. Ini sudah sangat kronis,” kata Abu Bakar Assegaf, Ketua Umum Persekabpas.
“Saya juga yakin kasus Persis tak akan dituntaskan. Apalagi, kompetisi sudah berakhir. Ini sudah tidak benar.”.
* Artikel Kiriman Umar Dani














“Bermain bola itu seperti perang dan saya hanya menjadi prajurit yang menunggu perintah dari komandan perangnya. Jika ingin memenangi peperangan, maka menangkanlah dulu medan pertempuran. Dan dalam pertempuran itu dibutuhkan pengorbanan. Itu prinsip sepak bola saya.”
Rusdiansyah, Pemain Belakang Persis Solo.




Pateni wae kbeh tkang suap, t
Saya jg ketawa ketika membaca komentar pak ketum bahwa PSSI hrs direformasi,,lha manajemen persis solo sndiri kpn direformasi pak?
Tdk ada lg kebenaran…
Yg ada..menang dan kalah…
Tp yakin..kebenaran akan menang..meski entah kapan…
kick out suap
SoLO
Persiku dianjcokkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk….
merdeka
Tp ad kbr kl bsk tgl 20 jajaran exco akan rapat maslah suap persiku tsb dan tgl 23 keputusan akan diumumkan,,
Saya berharap itu bnr dan persis solo mendapatkan keadilan,,amien
@nacha/admin Statistike pengunjung kok ilang,,,,,???
* ahahahahaha.. ^^ maap barusan di upgrade gan!!
10 besar,,,,horre
Sikat para penyuap
.
Jik ra enek sing komen ik
benzin
Yg pntg page one
Sundul gan
PERTAMAX